About Me

Launching Buku Arsitektur Nusantara

PROLOG PENULIS

Melihat arsitektur Nusantara itu seperti melihat pelangi dan memandang hujan yang rintik-rintik jatuh ke bumi; warnanya yang indah, bentuknya yang melengkung, serta butiran air yang lembut satu demi satu membasahi bumi. Warna-warni pelangi seolah melukiskan keberagaman kekayaan arsitektur tradisional di Nusantara yang kaya nilai, norma, dan estetika. Bentuk yang melengkung menjangkau dari ujung ke ujung, seolah memberitahukan kepada dunia bahwa Indonesia sangat luas, dari Sabang sampai Merauke, dari Mianga sampai ke Pulau Rote. Arsitektur Nusantara adalah butiran air dan mata air kehidupan yang berpegang pada janji leluhurnya. Arsitektur Nusantara adalah manifestasi nilai-nilai keberagaman yang indah, bening, menyejukkan; seindah pelangi, sejernih butiran air hujan yang mampu menyejukkan hati.

Nusantara merupakan pelangi alam semesta, anugerah Sang Pencipta Alam. Kekayaan tersebut terpancar salah satunya pada karya arsitektur adiluhung, berakar pada tradisi para leluhur. Bangsa Indonesia harus bersyukur dengan keanekaragaman arsitektur yang eksotik dibingkai oleh Bhinneka Tunggal Ika. Kita boleh kagum dengan arsitektur Barat, tetapi kita harus lebih bangga dengan arsitektur Nusantara sebagai jati diri dan identitas bangsa sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing. Sunda dengan imah panggungnya, Jawa dengan omah joglonya, Bali dengan asta kosala-kosalinya, Toraja dengan tongkonannya, Papua dengan honainya, dan lain-lain. Kesemuanya itu adalah karya para ‘arsitek lokal’ yang hanya mengandalkan naluri, mata hati, ketajaman mistik, serta pengalaman yang terukur. Para calon arsitek muda harus mau belajar kepada tukang bas, kalang, undagi, dan pande. Pengalamannya dalam mendesain harus dipelajari sebagai preseden yang dapat diterapkan sebagai bagian dari roh dalam setiap konsep dan karyanya.

Semangat yang ingin dibangun dari buku ini adalah menggelorakan rasa bangga pada mahasiswa arsitektur akan keanekaragaman karya adiluhung bangsanya. Saya sangat prihatin bila melihat beberapa karya arsitek di Indonesia (banyak) yang kehilangan identitas lokal daerahnya, termasuk karya tugas akhir mahasiswa yang cenderung (lebih banyak) berkiblat pada Barat ketimbang negaranya sendiri. Misalnya konsep bangunan tropis di Indonesia yang sering ‘terlupakan’ atau ‘dilupakan’. Arsitektur tradisional di Nusantara (mungkin) oleh sebagian kalangan dianggap kolot, jadul, ketinggalan zaman, atau tidak up-date. Padahal itu tidak benar! Keliru besar!. Arsitektur tradisonal selalu up-date, terbarukan, mengikuti perkembangan zaman, harmoni, serta menjaga keseimbangan dengan alam. Contohnya green architecture yang muncul di era modern ini justru berasal dari konsep arsitektur tradisional. Semoga buku ini mampu merubah anggapan yang keliru dan menjadi penawar lupa. Selamat membaca, terima kasih.    

Bandung, 20 Juni 2019

Nuryanto    

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *