Rumah The Jengky River

THE JENGKI RIVER‘ di Desa Cijengkol-Bandung 

Rumah ini milik Bapak Drs. H. Abdurahman Widjajapradja dan Ibu Arsy. Bapak Abdurahman pernah menjabat sebagai kepala Biro Kepegawaian BAAK Universitas Pendidikan Indonesia yang telah purna jabatan sejak tahun 2011. Rumah tersebut berlokasi di Desa Cijengkol Kecamatan Cidadap Kota Bandung-Jawa Barat. Luas tanahnya sekitar 300 M2 dengan luas bangunan sekitar 86 M2. Kontur tanah pada lokasi tersebut tidak rata, dengan beda tinggi antara 80-200 cm. Tinggi muka lantai tidak sama, sehingga dibuat terasering. Pada saat Bapak Abdurahman mengadakan selamatan rumah, diantara undangan yang hadir adalah Bapak Profesor Nu’man Soemantri yang pernah menjabat sebagai Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (sekarang UPI) pada tahun 1993. Bapak Nu’man memberikan sebutan lain untuk rumah ini dengan istilah ‘Jengki River‘, karena letaknya di Desa Cijengkol berdekatan dengan sungai yang berada dibagian belakang rumah. Akhirnya ‘Jengki River‘ inilah yang menjadi sebutan lain untuk rumah yang terlihat sangat sejuk dan natural.

Desain rumah memadukan tiga gaya etnik, yaitu: Sunda, Jawa, dan Bali. Arsitektur Sunda terlihat pada bagian depan yang lantainya dibuat panggung dan atapnya julang ngapak. Arsitektur Jawa dan Bali terlihat pada bagian interior rumah yang banyak menggunakan ornamen ukiran. Walaupun tidak seluruhnya mengadopsi ketiga arsitektur etnik tersebut, tetapi cukup mewakili nuansa etnik yang memberikan sentuhan tradisional-natural. Pada bagian tampak depan, jendela dan pintu menggunakan jenis jalousi atau krepyak (bagian luar) dan jenis panel (bagian dalam). Warna eksterior didominasi warna-warna natural (cokelat dan krem), sedangkan bagian interiornya menggunakan perpaduan warna putih dan krem. Lantai pada ruang tamu dan foyer menggunakan parquet, sedangkan pada ruang keluarga dan kamar tidur menggunakan granit. Bagian plafon memakai bahan dari gypsum dengan permainan posisi yang tinggi dan yang rendah (solid-void).

Organisasi ruang pada rumah Bapak Abdurahman, secara umum dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: Bagian depan yang terdiri dari: teras, ruang tamu, dan foyer; Bagian tengah yang meliputi: ruang keluarga, ruang makan yang terkoneksi dengan private balconpantry, kamar tidur utama, kamar tidur anak, dan kamar mandi; Bagian belakang yang terdiri dari: taman, kamar tidur asisten rumah tangga, kamar mandi, tempat cuci, tempat setrika, dan jemuran. Lantai bagian belakang lebih rendah dari ruang depan dan tengah, sesuai dengan kontur tanahnya. Kontur tanah yang tidak rata tersebut menjadi potensi tapak untuk diolah menjadi lantai terasering.

Arsitek rumah tersebut adalah Nuryanto, staf pengajar pada Departemen Arsitektur FPTK Universitas Pendidikan Indonesia. Dengan pendekatan Arsitektur Sunda, Jawa, dan Bali, arsitek tersebut mampu menghadirkan tiga karakter etnik yang natural sesuai dengan keinginan kliennya. Rumah tersebut dibangun pada Bulan Mei 2014 dan selesai Bulan November 2014. Penggunaan material alam, seperti: batu, kayu, bata terra cotta, dan air memberikan kesan alami yang sangat kuat. Diskusi yang cukup panjang antara arsitek dengan klien, menghasilkan rumusan konsep yang harmoni, sehingga proyek tersebut selesai dilaksanakan sesuai keinginan klien. (Sumber: Nuryanto).